by IUF Asia/Pacific | Mar 5, 2025 | Climate Change, Education & Training, English language, Freedom of Association, informal economy, Just Transitions, Youth in Unions
On February 27, 2025, the Indonesia Joint Youth Meeting took place in Yogyakarta, bringing together 35 youth from FSPM, FSBMM, and PERKASA. The meeting was held to share and discuss the challenge of organizing youth in unions in the informal economy, just transitions & skills in the context of new technology, automation and climate change, Effective Leadership Program, and NextGEN Program.
The meeting was started by the opening remark from brother Imam, FSBMM’s Youth Leader, that addressed the need for young people in the union to be more involved in the union’s activity either in the meeting, organizing the union, or becoming the part of a leadership. Brother Imam said, the youth involvement is necessary because youth is the Next Generation of the union.
Youth involvement in organizing is seen by what happened in Serikat Pekerja Mandiri Pariwisata Yogyakarta (SPMPARYO-Independence Union of Yogyakarta Tourism) where Brother Janu, the elected president of SPMPARYO, shared his struggles regarding the challenge to organize workers in informal economy. He said that there is still a lot of negative judgement going on among informal workers about unions that makes it difficult for him and other organizers to convince them to become part of the union. Despite the challenge, Brother Janu and SPMPARYO organizers make different strategies to ensure more workers in the informal sector get enough information about the union. He and his team make one database that has all of the information regarding the union, what union do, their activities, etc. Then, they make the database as a QR Code and make it into a sticker. So when they’re organizing in one area, they will distribute the sticker to all the informal workers that present.

Brother Janu from SPMPARYO is explaining the challenge in organizing workers in informal economy.

QR stickers: one of the organizing tools from SPMPARYO.
Climate change is part of the main discussion in this meeting. As we all know that youth would be the one who face the great impact of climate change so the union should take a step to help all the workers minimize the impact. FSBMM’s youth committee did the training with WALHI, an NGO who focused on climate change, to understand more about climate change and its impact on workers. Through the training, the representatives of FSBMM’s youth committee shared that climate change does impact the workers. For instance, the quality of the milk that cows produce will be decreased in the dry season because food supply for the cows will be difficult to get. Union can help to minimize the impact to the workers with collective agreement, including the clause about climate change will help workers to get as minimum impact from climate change.

Brother Humam from FSBMM is explaining the impact of climate change to the workers.
In line with the meeting theme, “Youth in Unions – Building Union Power for the Future,” this meeting focuses on how important young people are for the future of unions. To ensure they’re ready to take on leadership roles, we want to help build their confidence in decision-making. By giving them the tools and support they need, we can help them feel more confident about shaping the future of unions.
Additionally, the meeting aimed to engage youth in interactive sessions that emphasized critical thinking, collective action, and strategic organizing. These activities encouraged youth to take a more active role in union work, contribute to policy discussions, and advocate for workers’ rights both locally and globally. Moving forward, these activities should be followed by a more in-depth training on effective leadership.

Youth’s engaging in leadership group work.
It is key to create a space where young people feel comfortable and safe within the union. When they feel supported and heard, they’re more likely to speak up and take action. This kind of environment helps boost their confidence and leadership skills. By focusing on both, we’re not just preparing youth for the future – we’re building the future of unions together.
by IUF Asia/Pacific | Mar 5, 2025 | Bahasa Indonesia, Climate Change, Education & Training, Freedom of Association, informal economy, Just Transitions, Youth in Unions
27 Februari 2025 – Indonesia Joint Youth Meeting di Yogyakarta diadakan. Pertemuan ini mempertemukan 35 pemuda dari FSPM, FSBMM, dan PERKASA untuk saling berbagi dan membahas tantangan pengorganisasian serikat pekerja di sektor informal, transisi yang adil untuk perubahan iklim, transisi yang adil dan keterampilan ramah lingkungan, Effective Leadership Program, dan Program NextGEN.
Pertemuan diawali dengan sambutan dari Brother Imam, Ketua Pemuda FSBMM, yang menyampaikan perlunya generasi muda di serikat untuk lebih terlibat dalam kegiatan serikat baik dalam pertemuan, pengorganisasian serikat, maupun menjadi bagian dari kepemimpinan. Menurut Brother Imam, keterlibatan pemuda sangat diperlukan karena pemuda adalah generasi penerus yang akan meneruskan perjuangan serikat.
Salah satu contoh nyata keterlibatan pemuda dalam organisasi serikat adalah yang dilakukan oleh Serikat Pekerja Mandiri Pariwisata Yogyakarta (SPMPARYO). Brother Janu, presiden terpilih dari SPMPARYO, membagikan perjuangannya mengenai tantangan untuk mengorganisir pekerja di sektor ekonomi informal. Menurutnya, masih banyak stigma negatif tentang serikat pekerja di kalangan pekerja informal, sehingga Ia dan pengurus lain kesulitan untuk meyakinkan mereka menjadi bagian dari serikat pekerja. Meski menghadapi tantangan, Brother Janu dan SPMPARYO membuat strategi berbeda untuk memastikan lebih banyak pekerja di sektor informal mendapatkan informasi yang cukup tentang serikat pekerja. Ia dan timnya membuat database yang berisi semua informasi tentang serikat pekerja, apa yang mereka lakukan, dan kegiatan-kegiatan mereka, lalu mengubahnya menjadi QR Code dan menempelkannya sebagai stiker. Stiker ini dibagikan ke pekerja informal ketika mereka melakukan pengorganisiran di satu wilayah, sehingga pekerja informal lain bisa dengan mudah mengakses informasi tentang serikat pekerja.

Brother Janu dari SPMPARYO sedang menjelaskan tantangan dalam mengorganisir pekerja di ekonomi informal.

Stiker QR: salah satu alat pengorganisasian dari SPMPARYO.
Selain pengorganisiran, Isu perubahan iklim juga menjadi salah satu topik utama yang dibahas dalam pertemuan ini. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kaum mudalah yang akan menghadapi dampak besar dari perubahan iklim, sehingga serikat pekerja perlu mulai mengambil langkah-langkah untuk melindungi pekerja dan meminimalkan dampaknya. Komite pemuda FSBMM melakukan pelatihan bersama WALHI, LSM yang fokus pada perubahan iklim, untuk memahami lebih jauh dalam dampak perubahan iklim terhadap pekerja. Melalui pelatihan tersebut, perwakilan komite pemuda FSBMM menyampaikan bahwa perubahan iklim memang berdampak pada pekerja, misalnya, kualitas susu yang dihasilkan sapi menurun saat musim kemarau karena kekurangan pakan. Serikat pekerja dapat membantu meminimalkan dampak terhadap pekerja dengan membuat kesepakatan bersama yang mencakup klausul terkait perubahan iklim, untuk meminimalisir dampak dari perubahan iklim terhadap pekerja.

Saudara Humam dari FSBMM sedang menjelaskan dampak perubahan iklim terhadap pekerja.
Sesuai dengan tema pertemuan, “Pemuda dalam Serikat Pekerja – Membangun Kekuatan Serikat untuk Masa Depan,” pertemuan ini berfokus pada betapa pentingnya generasi muda bagi masa depan serikat pekerja. Kami ingin membantu membangun kepercayaan diri pemuda dalam pengambilan keputusan untuk memastikan bahwa generasi muda siap untuk menjadi pemimpin. Dengan memberi dukungan dan keterampilan yang mereka butuhkan, kami yakin kaum muda akan lebih percaya diri dalam merancang masa depan serikat pekerja.
Selain itu, pertemuan ini bertujuan untuk melibatkan kaum muda dalam sesi interaktif yang menekankan pemikiran kritis, tindakan kolektif, dan pengorganisasian strategis. Kegiatan-kegiatan ini mendorong kaum muda untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam serikat pekerja, berkontribusi dalam diskusi kebijakan, dan mengadvokasi hak-hak pekerja baik secara lokal maupun global. Kedepannya, kegiatan ini harus diikuti dengan pelatihan yang lebih mendalam mengenai effective leadership.

Pemuda dalam kerja kelompok kepemimpinan.
Penting juga untuk menciptakan ruang di mana kaum muda merasa nyaman dan aman dalam serikat pekerja. Ketika mereka merasa didukung dan didengarkan, pemuda cenderung akan bersuara dan mengambil tindakan. Lingkungan seperti ini membantu meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan kepemimpinan mereka. Dengan berfokus pada keduanya, kita tidak hanya mempersiapkan pemuda untuk masa depan – kita juga bersama-sama membangun masa depan serikat pekerja.