by IUF Asia/Pacific | Oct 2, 2025 | Defending Democracy, Human Rights
A militocracy is a system of government that claims to be democratic and holds elections, but the majority of positions in all branches of government are held by serving or former military officers, intelligence officers and other security forces.
The military junta in Myanmar is using the local and national elections that begin on 28 December 2025 as the first stage of creating a militocracy. Out of 4,900 election candidates over 1,000 are serving military officers and the rest are either former military officers, business cronies or have passed military inspection by registering within the strict rules set by the junta.
Following the completion of these carefully engineered elections in February or March 2026, the junta will claim that Myanmar is a democratic civilian government. By then military control will be exercised through the thousands of positions in all branches of government held by serving and former military officers.
Several foreign governments will be quick to accept the election results because Myanmar’s militocracy guarantees access to strategic ports and rare earth minerals.
Even institutionally democratic governments are listening to their racist experts who say that Burma (Myanmar) can never be a democracy, and so pragmatism requires that they accept the new militocracy.
It is experts such as these in the EU business unit in Yangon and Bangkok who justified continued European investment under the military junta. They explained to us that U Zaw Zaw – a military crony identified by the UN as committing crimes against humanity – was “one of the good guys”. Imagine an EU technocrat describing a business crony of Putin as one of the good guys. This blatant double standard only happens if the basic assumption is that the lives of people in Myanmar are somehow worth less than Europeans.
Any decision by any government to accept the sham elections and the subsequent militocracy, is nothing less than a blatant declaration that the peoples of Myanmar (peoples – plural) are undeserving of the universal human rights that democratic governments and the UN system are supposed to uphold.
See The military coup in Myanmar is business as usual for Accor [3 Feb 2021] and Financing the coup: foreign companies that continued doing business with the military and its cronies financed this assault on freedom in Myanmar [10 Feb 2021].

by IUF Asia/Pacific | Sep 22, 2025 | Bahasa Indonesia, Defending Democracy, Human Rights
Junta militer akan mengatur kemenangan pemilunya melalui partai politik militernya sendiri, Union Solidarity and Development Party (USDP—Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan).
Saat pemilu dimulai pada 28 Desember 2025, lebih dari 20 menteri dan pemimpin tinggi junta militer akan berpartisipasi sebagai kandidat melalui USDP. Ini termasuk pensiunan jenderal militer dan setidaknya 11 jenderal aktif yang saat ini memegang posisi senior di rezim militer.
Hingga saat ini, 489 perwira militer dari semua pangkat bergabung dengan USDP untuk “memenangkan” pemilu yang direkayasa ini.
Meskipun para perwira militer ini tampak ikut serta dalam pemilu yang direkayasa sebagai kandidat USDP, hasilnya sudah pasti.
Polis asuransi militer Myanmar dalam menghadapi pemilu yang disebut “demokratis” selalu berupa jaminan kursi di parlemen: kursi yang memang disediakan khusus untuk militer.
Di Majelis Rendah, 110 dari 330 kursi (30%) yang akan dipilih, diperuntukkan untuk militer. Di Majelis Tinggi, 56 dari 168 kursi (33%) yang akan dipilih diperuntukkan untuk militer.
Jadi, selain para jenderal militer dan purnawirawan jenderal militer yang maju dalam pemilu palsu sebagai kandidat USDP, militer juga akan menunjuk perwira tinggi militer untuk menduduki kursi yang telah mereka sisihkan.

by IUF Asia/Pacific | Sep 22, 2025 | Bahasa Indonesia, Defending Democracy, Human Rights
Agar pemilu yang dimulai pada 28 Desember 2025 terlihat nyata, junta militer Myanmar akan memastikan adanya partai-partai “oposisi” yang berpartisipasi.
Berdasarkan Undang-Undang Pendaftaran Partai Politik yang dibentuk oleh pemerintahan militer pada Januari 2023, partai yang ingin berpartisipasi dalam pemilu nasional harus memiliki setidaknya 100.000 anggota dan berkantor di 110 dari 330 kabupaten/kota. Dengan semua partai politik pro-demokrasi yang telah dinyatakan ilegal dan dilarang sebagai organisasi “teroris”, bagaimana mungkin sebuah partai oposisi yang sesungguhnya dapat terbentuk?
Pembatasan ketat terhadap kebebasan yang diberlakukan oleh militer di kabupaten/kota yang diduduki dan serangan militer terhadap penduduk sipil di seluruh negeri membuat perekrutan 100.000 anggota dan pembukaan lebih dari 100 kantor secara terbuka menjadi mustahil. Hanya partai politik yang bekerja sama dengan militer yang dapat melakukan hal ini.
Untuk menciptakan kesan banyak partai politik yang ikut pemilu, Undang-Undang Pendaftaran Partai Politik junta militer mengizinkan partai-partai daerah untuk mendaftar. Partai-partai ini dapat mengikuti pemilu lokal, tetapi tidak dapat mengikuti pemilu nasional. Partai-partai daerah ini harus memiliki setidaknya 1.000 anggota dan berkantor di lima kabupaten/kota.
Kemungkinan 40 partai daerah kini telah terdaftar, tetapi banyak yang belum memiliki kandidat dan kantor mereka hanyalah alamat di atas kertas. Sekali lagi, kolusi dengan militer adalah satu-satunya cara untuk terdaftar. Junta militer tampaknya yakin bahwa partai-partai politik boneka di tingkat daerah atau negara bagian ini akan membantu menciptakan kesan pemilu yang sesungguhnya.

by IUF Asia/Pacific | Sep 22, 2025 | Bahasa Indonesia, Defending Democracy, Human Rights
Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dikendalikan militer menyatakan bahwa hanya 102 kabupaten/kota dari 330 kabupaten/kota di Myanmar yang akan diikutsertakan dalam pemilihan umum yang akan dimulai pada 28 Desember 2025. Jumlah tersebut hanya 31% dari total daerah pemilihan.
Mengapa 69% lainnya dikecualikan? Karena sebagian besar kota telah dibebaskan dari kekuasaan militer oleh People’s Defence Force (PDF—Pasukan Pertahanan Rakyat) dan Ethnic Revolutionary Organizations (EROs—Organisasi Revolusioner Etnis) yang berjuang untuk memulihkan demokrasi. Selain itu, puluhan kota juga diserang oleh militer. Junta militer yang berkuasa sedang melancarkan pengeboman udara – termasuk pengeboman sekolah dan rumah – untuk merebut kembali kendali.
Itulah sebabnya pemungutan suara yang disebut-sebut itu dimulai pada 28 Desember 2025 sebagai tahap pertama dan berlanjut selama dua atau tiga bulan. Hal ini dirancang untuk memberi militer lebih banyak waktu untuk mengambil alih lebih banyak kota secara paksa.
Jika jumlah daerah pemilihan yang dimasukkan dalam Union Election Commission (UEC—Komisi Pemilihan Umum) yang dikuasai militer meningkat hingga lebih dari 31% sebelum tanggal 28 Desember atau selama masa pemilu tiga bulan, itu semata-mata karena junta telah mengambil alih kembali kendali melalui serangan militer terhadap rakyat, yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa.

by IUF Asia/Pacific | Sep 21, 2025 | हिन्दी Hindi, Defending Democracy, Human Rights
सैन्य शासन अपनी चुनावी जीत का संचालन सेना की अपनी राजनीतिक पार्टी, यूनियन सॉलिडेरिटी एंड डेवलपमेंट पार्टी (यूएसडीपी) के माध्यम से करेगा।
28 दिसंबर 2025 को जब चुनाव शुरू होंगे, तो सैन्य शासन के 20 से ज़्यादा मंत्री और शीर्ष नेता यूएसडीपी के माध्यम से उम्मीदवार के रूप में चुनाव लड़ेंगे। इनमें सेवानिवृत्त सैन्य जनरल और सैन्य शासन में वरिष्ठ पदों पर कार्यरत कम से कम 11 सेवारत जनरल शामिल हैं।
अभी तक सेना के सभी रैंकों के 489 सैन्य अधिकारी यूएसडीपी में शामिल होकर इन बनावटी चुनावों में भारी बहुमत से “जीत” हासिल कर चुके हैं।
हालाँकि ये सैन्य अधिकारी यूएसडीपी के उम्मीदवार के रूप में बनावटी चुनाव लड़ने का आभास देते हैं, लेकिन परिणाम पहले से ही सुनिश्चित है।
“लोकतांत्रिक” चुनावों के मद्देनजर म्यांमार के सैन्य शासन की बीमा पॉलिसी हमेशा से संसद में उसकी सीटों की गारंटी रही है: ये सीटें सेना के लिए आरक्षित हैं।
निचले सदन में, चुनाव के लिए 330 सीटों में से 110 (30%) सेना के लिए आरक्षित हैं। उच्च सदन में, चुनाव के लिए 168 सीटों में से 56 (33%) सेना के लिए आरक्षित हैं।
अतः यूएसडीपी उम्मीदवारों के रूप में फर्जी चुनावों में भाग लेने वाले सैन्य जनरलों और सेवानिवृत्त सैन्य जनरलों के अलावा, सेना अपने आरक्षित सीटों पर वरिष्ठ सैन्य अधिकारियों को भी नियुक्त करेगी।

by IUF Asia/Pacific | Sep 21, 2025 | हिन्दी Hindi, Defending Democracy, Human Rights
28 दिसंबर 2025 से शुरू होने वाले चुनावों को असली दिखाने के लिए म्यांमार की सैन्य शासन यह सुनिश्चित करेगी कि “विपक्षी” दल भी इसमें भाग लें।
जनवरी 2023 में सैन्य शासन द्वारा बनाए गए राजनीतिक दल पंजीकरण कानून के तहत, राष्ट्रीय चुनावों में भाग लेने के इच्छुक दलों के कम से कम 1,00,000 सदस्य होने चाहिए और 330 में से 110 जनपद में उनके कार्यालय होने चाहिए। जब सभी लोकतंत्र समर्थक राजनीतिक दलों को पहले ही अवैध घोषित कर दिया गया है और “आतंकवादी” संगठनों के रूप में प्रतिबंधित कर दिया गया है, तो एक वास्तविक विपक्षी दल कैसे संभव है?
सेना द्वारा कब्ज़े वाले जनपद में आज़ादी पर लगाए गए कड़े प्रतिबंधों और देश भर में नागरिक आबादी पर सैन्य हमलों का मतलब है कि खुलेआम एक लाख सदस्यों की भर्ती करना और 100 से ज़्यादा कार्यालय खोलना असंभव है। केवल सेना के साथ सहयोग करने वाले राजनीतिक दल ही ऐसा कर सकते हैं।
चुनावों में कई राजनीतिक दलों के शामिल होने का आभास दिलाने के लिए, सैन्य शासन का राजनीतिक दल पंजीकरण कानून क्षेत्रीय दलों को पंजीकरण की अनुमति देता है। ये वे दल हैं जो स्थानीय चुनावों में शामिल हो सकते हैं, लेकिन राष्ट्रीय चुनावों में नहीं। इन क्षेत्रीय दलों के कम से कम 1,000 सदस्य और पाँच नगरों में कार्यालय होने चाहिए।
संभवतः 40 क्षेत्रीय पार्टियाँ अब पंजीकृत हैं, लेकिन उनमें से कई के पास कोई उम्मीदवार नहीं है और उनके कार्यालय का पता सिर्फ़ कागज़ पर है। फिर से, सेना के साथ मिलीभगत ही पंजीकरण का एकमात्र तरीका है। सैन्य शासन को पूरा भरोसा है कि क्षेत्रीय या राज्य स्तर पर ये कठपुतली राजनीतिक पार्टियाँ असली चुनावों का ढोंग दिखने में मदद करेंगी।
