Konsep “pelecehan seksual quid-pro-quo” menyembunyikan kekuatan koersif laki-laki dan kerentanan sistemik perempuan dalam pekerjaan yang tidak aman

Dalam beberapa tahun terakhir, konsep “pelecehan seksual quid pro quo” telah menjadi pusat penjelasan mengenai pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan. Secara khusus, penggunaan istilah tersebut oleh ILO – serta Global Unions– menjadikan “pelecehan seksual quid pro quo” sebagai bagian integral dari pemahaman kita tentang kekerasan berbasis gender di dunia kerja.

Hal serupa juga berlaku ketika menjelaskan Konvensi ILO No.190 (Konvensi mengenai penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja), meskipun konvensi tersebut tidak merujuk pada istilah ini. Panduan ILO untuk C190 menjelaskan bahwa ada dua unsur pelecehan seksual: quid pro quo dan lingkungan kerja yang tidak bersahabat.

Definisi ini berdasarkan General Observation of the ILO Committee of Experts on the Application of Conventions (CEACR) tahun 2002 tentang Konvensi No.111 Diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan). Asal mula “pelecehan seksual quid pro quo” dalam undang-undang AS juga berkaitan dengan diskriminasi berbasis gender dan kita akan membahasnya nanti.

Penggunaan “pelecehan seksual quid pro quo” yang meluas dan tidak kritis menimbulkan pertanyaan apakah hal tersebut secara akurat menggambarkan apa yang dihadapi pekerja perempuan dan bagaimana hal tersebut membingkai tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan.

Realitanya adalah perempuan dengan kontrak kerja yang tidak terjamin lebih rentan terhadap pelecehan dan penganiayaan seksual ketika laki-laki memutuskan apakah mereka akan dipekerjakan, apakah kontrak mereka akan diperbarui, berapa banyak pekerjaan yang mereka terima, mendapatkan peran atau posisi sebagai apa, bagaimana penilaian kinerja mereka, dan pada akhirnya adalah seberapa banyak pendapatan mereka dan untuk berapa lama (masa kerja mereka).

Baru-baru ini di sebuah perusahaan global terkemuka yang beroperasi di Asia Tenggara, direktur SDM perusahaan tersebut menggunakan wewenang tunggal dan eksklusifnya untuk memutuskan rekrutmen, pembaruan kontrak, dan pengangkatan tetap pekerja perempuan. Dia kemudian melakukan pelecehan seksual dan pelecehan fisik terhadap 35 wanita selama lima tahun. Dalam kasus lain – di sebuah perusahaan minuman transnasional di Filipina dan baru-baru ini sebuah perusahaan makanan ringan transnasional di Pakistan – kontraktor tenaga kerja laki-laki dan supervisor laki-laki mereka memaksa pekerja kontrak perempuan untuk melakukan hubungan seks sebagai imbalan karena telah mempekerjakan mereka, dan ketika mereka sudah bekerja, mereka dipaksa untuk melakukan hubungan seks untuk mendapat hari kerja tambahan.

Untuk memahami bagaimana dan mengapa hal ini terjadi (dan untuk mencegah hal ini terjadi), perlu ada pemahaman yang lebih jelas tentang mengapa perempuan yang berada dalam pekerjaan tidak tetap (pekerjaan yang tidak aman/kontrak) menghadapi risiko pelecehan dan penganiayaan seksual yang jauh lebih besar. Laki-laki yang mempunyai wewenang (atau yang mengaku mempunyai wewenang) mengeksploitasi kerentanan ekonomi perempuan dan kerentanan sosial mereka (dalam hal status pekerjaan).

Istilah Quid pro quo (“ini untuk itu”) mengacu pada pertukaran imbalan atas sesuatu dan paling umum dipahami sebagai pertukaran bantuan (saya bantu kamu, kamu bantu saya). Ketidakseimbangan yang luar biasa dalam kekuasaan (otoritas laki-laki yang tidak terkendali) dan kerentanan pekerja perempuan (ekonomi dan sosial) mendasari pelecehan dan kekerasan seksual. Ini bukan pertukaran. Ini bukan sebuah bantuan. Selain itu, quid pro quo mengasumsikan adanya kesepakatan implisit yang pada gilirannya menyiratkan persetujuan. Hal ini sangat tidak dapat diterima mengingat kenyataan yang terjadi dan yang kita hadapi.

Seorang pekerja kontrak perempuan meminta tambahan 12 hari kerja agar ia berhak mendapatkan tunjangan wajib. Supervisor kontraktor dengan bantuan pemimpin serikat pekerja mengatakan ikutlah dengan saya dan kita akan mendiskusikannya. Mereka memaksanya berhubungan seks dengan mereka lalu meninggalkan dia begitu saja di dekat rumahnya. Dia melapor untuk bekerja keesokan harinya. Manajemen perusahaan transnasional tersebut meremehkan upaya beraninya untuk mengajukan tuntutan pemerkosaan karena mereka yakin dia sengaja mencari kesempatan ini dan terjadilah pertukaran. Satu-satunya tindakan ketidakpatuhan (bukan kejahatan) adalah bahwa supervisor kontraktor dan pemimpin serikat pekerja menyalahgunakan wewenang mereka dan seharusnya tidak menawarkan imbalan. Transparansi yang lebih besar dan pelatihan penyegaran mengenai pelecehan seksual adalah hal yang diperlukan.

Meremehkan eksploitasi terhadap kerentanan dan pemerkosaan yang dialami pekerja kontrak perempuan didukung oleh penggunaan “pelecehan seksual quid pro quo” yang dilakukan ILO. Menurut konsep ini, pelanggaran yang terjadi adalah pelecehan seksual karena diskriminasi berbasis gender. Rupanya para laki-laki tersebut melakukan diskriminasi terhadap pekerja kontrak perempuan dengan alasan bahwa ia adalah perempuan. Namun, konsep tersebut telah mengalami transformasi lainnya (tidak lagi membahas diskriminasi terhadap perempuan) karena cakupan C190 yang lebih luas mencakup laki-laki dan perempuan:

Quid pro quo – Setiap tindakan fisik, verbal atau non-verbal yang bersifat seksual dan tindakan lain berdasarkan jenis kelamin yang mempengaruhi martabat perempuan dan laki-laki, yang tidak disukai, tidak masuk akal, dan menyinggung penerimanya; dan penolakan atau penerimaan seseorang terhadap tindakan tersebut digunakan secara eksplisit atau implisit sebagai dasar pengambilan keputusan yang berdampak pada pekerjaan orang tersebut;

Yang hilang adalah rasa putus asa atas kondisi ekonomi yang berasal dari ketidakamanan pekerjaan atau pekerjaan tidak tetap yang dialami perempuan, dan eksploitasi yang disengaja atas kerentanan mereka oleh laki-laki atau laki-laki yang dapat memutuskan apakah kondisi ketidakamanan pekerjaan tersebut bertambah atau berkurang. Ini adalah pemaksaan.

Konsekuensi yang dapat diprediksi jika kita tidak menyetujui pemaksaan ini adalah sumber kekhawatiran yang terus-menerus, ditambah dengan kecemasan dan ketidakamanan yang berasal dari kerentanan ekonomi, sosial, dan dalam banyak kasus, kerentanan fisik. Kecemasan yang dialami perempuan dalam pekerjaan yang tidak aman meningkatkan kekuasaan laki-laki yang memegang otoritas dan menjadi bagian integral dari efektivitas pemaksaan ini. Namun kerentanan ekonomi perempuan membuat mereka tidak bisa melepaskan diri dari paksaan ini. Ini adalah lingkaran setan – bukan pertukaran bantuan.

Dalam kasus Direktur SDM sebuah perusahaan transnasional yang mengeksploitasi 35 perempuan, ia membawa perempuan muda (di bawah otoritasnya dan dengan kontrak jangka waktu tertentu yang hanya dapat diperpanjang olehnya) ke asramanya dan melakukan pelecehan seksual dan dalam beberapa kasus melakukan kekerasan seksual terhadap mereka. Bagaimana bisa pemaksaan ini disebut quid pro quo? Kita perlu melihat pemaksaan ini dalam pemahaman kita tentang pelecehan seksual. Bukan pertukaran bantuan.

Implikasi yang paling meresahkan dari istilah “pelecehan seksual quid pro quo” adalah gagasan implisit tentang persetujuan. Pertukaran (“ini untuk itu”) menyiratkan bahwa Si Perempuan (korban pelecehan) sadar akan apa yang dia lakukan dan secara default bertanggung jawab atas konsekuensinya. Pandangan umum di kalangan perempuan yang memegang otoritas (manajer dan supervisor) dan bahkan rekan kerja perempuan lainnya adalah bahwa mereka (korban) tahu apa yang akan mereka hadapi. Hal ini mempunyai implikasi yang serius tidak hanya terhadap kerentanan perempuan (pengisolasian dalam suatu lingkungan mulai dari kurangnya dukungan hingga cemoohan dan permusuhan) namun juga terhadap solusi yang dirasakan. Jika pendekatan “pelecehan seksual quid pro quo” melanggengkan mitos persetujuan, maka menempatkan lebih banyak perempuan pada posisi yang berwenang mungkin tidak mengurangi kerentanan perempuan. Hal ini juga tidak mengurangi kerentanan ekonomi perempuan akibat pengaturan pekerjaan tidak tetap (pekerjaan yang tidak aman/kontrak).

Istilah “pelecehan seksual quid pro quo” pertama kali digunakan dalam kasus hukum AS yang diajukan pada tahun 1976 oleh Diane Williams yang dipecat dari pekerjaannya di Departemen Kehakiman AS setelah mengajukan pengaduan terhadap atasannya. Pengadilan memutuskan bahwa Williams menjadi sasaran “pelecehan seksual quid pro quo”. Namun yang menjadikan tindakan pemberi kerja menjadi ilegal adalah karena tindakan tersebut didasarkan pada diskriminasi jenis kelamin: hanya perempuan yang merupakan objek dalam menerima rayuan seksual, sehingga menciptakan hambatan buatan dalam mendapatkan pekerjaan bagi salah satu gender, namun tidak bagi gender lainnya. Diskriminasi ini ditetapkan melanggar Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964.

Hal ini menjadi preseden bagi kasus lain yang kalah pada tahun 1974, dan dimenangkan pada tingkat banding pada tahun 1977. Paulette Barnes adalah pegawai penggajian yang bekerja untuk Badan Perlindungan Lingkungan AS (US Environmental Protection Agency). Dia kehilangan pekerjaannya setelah menolak berhubungan seks dengan supervisor laki-laki. Ketika Barnes memenangkan bandingnya pada tahun 1977, pengadilan memutuskan bahwa kasus tersebut merupakan diskriminasi jenis kelamin jika seorang perempuan menderita kerugian atas pekerjaan yang nyata (misalnya kehilangan pekerjaan/dipecat) karena menolak memenuhi permintaan yang bersifat seksual. Sekali lagi, diskriminasi ini melanggar Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964.

Ketika perempuan seperti Williams dan Barnes kehilangan pekerjaan karena menolak berhubungan seks dengan atasannya, mereka menolak quid pro quo dan ini menjadi isu diskriminasi karena hal ini tidak akan terjadi jika mereka laki-laki. Konsekuensi logis dari pemikiran tersebut adalah perempuan bisa menolak dan dihukum atau menerima dan dieksploitasi secara seksual. Keduanya merupakan pelecehan seksual namun ada rasa persetujuan yang tersirat – sebuah pertukaran dengan hasil yang diharapkan. Inilah sebabnya mengapa laki-laki lebih memilih istilah “pelecehan seksual quid pro quo”. Hal ini salah karena merupakan penyalahgunaan wewenang, namun dilakukan berdasarkan persetujuan implisit dimana perempuan tersebut mengharapkan untuk mendapatkan pekerjaan, lulus masa percobaan, memperbarui kontrak atau mendapatkan promosi. Kekerasan dan pemaksaan yang mendasari semua situasi di mana kerentanan ekonomi dan sosial perempuan dieksploitasi dikaburkan oleh gagasan pertukaran – sebuah transaksi.

Apa yang benar-benar hilang dalam 47 tahun sejak Williams vs. Saxbe (1976) dan Barnes vs. Costle (1977), adalah bahwa satu-satunya cara untuk memenangkan kasus hukum pada saat itu adalah dengan membuktikan bahwa kasus tersebut melanggar Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan membuktikan bahwa hal tersebut merupakan diskriminasi jenis kelamin (diskriminasi berbasis gender). Alih-alih mengembangkan undang-undang dan peraturan yang lebih kuat untuk mengkriminalisasi penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan laki-laki terhadap pekerja perempuan dan menjadikan pelecehan seksual sebagai kejahatan, kita sekarang melihat argumen hukum yang dikompromikan dari lima dekade lalu digunakan di tingkat global.

Yang juga hilang adalah Diane Williams dan Paulette Barnes adalah perempuan Afrika-Amerika. Dalam gagasan “pelecehan seksual quid pro quo” ini tidak ada ruang untuk membicarakan fakta bahwa rasisme yang sistemik dan terlembaga mendasari kerentanan mereka dan kekuatan koersif laki-laki.

Dr Muhammad Hidayat Greenfield, Sekretaris Regional IUF Asia/Pacific

ایف ایس پی ایم انڈونیشیا نے اپنی طاقت میں اضافہ کے لیے نیا طریقہ اپناتے ہوے سیاحتی کارکنون کی یونین تشکیل دی۔

ایف ایس پی ایم انڈونیشیا نے اپنی طاقت میں اضافہ کے لیے نیا طریقہ اپناتے ہوے سیاحتی کارکنون کی یونین تشکیل دی۔

FSPM Congress

ایف ایس پی ایم نے جنوری 2023 کو ہونے والی اپنی 8ویں کانگریش میں فیصلہ کیا تھا کہ جن آٹھ علاقوں سیما رنگ،پوکیاکارتا،جکارتہ۔لامپنگ،بانڈو،سورابایالاجوان،باجو اور بالی جیاں ان کے ممبر مو جود ہیں وہاں اپنی رکنیت کو بڑھانے کے لیے سیاحتی کارکنوں کی جنرل یونین بنایں گے۔

کویڈ کے دوران سیاحت کے بحران کی وجہ سے پچھلے تین سالوں میں پورے انڈونیشیا میں اپنے 4000 ممبران کھونے کے بعد ایف ایس پی ایم نے اپنی یونین کی طاقت کو دوبارہ قائم کرنے کے لیے مزید کارکنوں کو منظم کرنے کے نئے طریقے تلاس کیے۔

ایس ایس پی ایم  نے ایف ایس پی ایم پری ویسٹا کو ایک نئے ڈھانچے کے طور پر تشکیل دینے کا فیصلہ کیا تا کہ کھانے کی خدمات اور ہوٹل و سیاحت کی صنعت میں انفرادی کارکنوں کو اس میں شامل کیا جاے اور انہیں خراب صورتحال میں انکی حفاظت کے لیے ان کی اپنی حقیقی یونین کی ضرورت کو پورا کیا جا سکے۔ ایف ایس پی ایم نے فوری طور پر بڑے پیمانے پر تنظیم شازی کے لیے حکمت عملی شروع کر دی، اس سے پہلے یہ بات عام تھی کہ ایف ایس پی ایم کے پاس معلومات حاصل کرنے کے ایسے پیغامات آتے تھے جہاں کام کی جگہ یونین نہیں ھے اور وہ پوچھتے تھے کہ کیا ایف ایس پی ایم میں شامل پو سکتے ہیں لیکن اس وقت ہم ان کے لیے کچھ نہیں کر سکتے تھے، یہ بات ایف ایس پی ایم نے ۔۔جنرل سیکریٹری بھائی گلیح تری پنجالو نے بتائی

Registration of FSPM Pariwisata

۔2 مئی کو ایف بی ایم پری ورسٹا افرادی قوت کے محکمے میں رجسٹرڈ ہونے والی پہلی انفرادی بنیاد پر جنرل یونین بن گئی۔یہ 8 جنوری کو ہونے والی کانگریس کے فیصلے کا نتیجہ تھا۔

بھائی گلیح نے بتایا کہ انڈونیشیا میں مزدوروں کے لیے ٹریڈ یونین بنانا کافی مشکل ہے کیونکہ مزدوروں اور آجروں کی نظروں میں یونینوں کی بری تصویر بنتی ہے۔انڈونیشیا کے قانون کا ضابطہ جس میں کام کی جگہ پر یونین بنانے کے لیے کم از کم 10 افراد کی ضرورت ہوتی ہے وہ بھی بعض اوقات رکاوٹ بن جاتی ہے۔

مئی۱۵ کو نئی یونین کے قیام کے لیے میٹنگ کے دوران ایک مقامی ریستوران کے کارکن برادر محمد احسان نے کہا، “جب کارکنوں کی حیثیت سے ہمارے حقوق کو پامال کیا جاتا ہے تو یہ ہمارے لیے بہترین پلیٹ فارم ہے۔” انہوں نے مزید کہا کہ کارکنوں کو دفاع کرنے والے افراد کو ہونا چاہیے۔

یونین میں شامل ہونے اور اجتماعی طور پر جدوجہد کرنے کی اہمیت کی وصاحت کرتے ہوئے ایس ایس پی ایم کے آرگنائزر برادر حریف یونالڈی نے کہا: “کبھی کبھی یونین کے لیے کارکنوں کے حقوق کا تحفظ کرنا مشکل ہو جاتا ہے، ایسے کارکنوں کو چھوڑ دیں جن سے توقع کی جاتی ہے کہ وہ خود اپنے حقوق کا دفاع کریں گے۔

Fafin Lubis, a founding member of a general tourism workers union

جنرل ٹورازم ورکرز یونین کے بانی اجلاس میں، ریستوران کے کارکنوں نے اس شعبے میں کارکنوں کے حقوق کی خلاف ورزیوں پر کچھ مسائل اٹھائے، جیسے کہ روزانہ کارکنوں کا استعمال، پارٹ ٹائم ورکرز کے ساتھ بدسلوکی اور بغیر معاوضہ اوور ٹائم۔ ایک بین الاقوامی ریسٹورنٹ چین کے اسسٹنٹ مینیجر برادر فافن لوبس نے ایک یونین بنا کر ایک “سازگار، ہم آہنگی اور خوشحال” کام کرنے کا ماحول بنانے کی اپنی خواہش کی وضاحت کی۔

مستقبل کے لیے منظم کرنا

ایف ایس پی پری ورسٹا کومنظم کرنا ایک طویل مدتی تنظیمی کوشش ھے، یہ پہلا قدم ہے جس کے بارے میں ایف ایس پی ایم کا خیال ہے کہ ان کارکنوں کو ایک پلیٹ فارم فراہم کرنے میں اہم ہے جو یونین میں شامل ہونے میں دلچسپی رکھتے ہیں۔

ایف ایس پی ورسٹا ہوٹل اور ریستوراں کے کارکنوں تک محدود نہیں ہے ۔ ایف ایس پی ایم ۔ دیگر سیاحتی کاروباروں میں زیادہ کارکنوں کو نشانہ بنا رہا ہے جیسے کہ سیاحتی مقامات پر کارکنان، ٹور گائیڈز، گولف کورس کے کارکنان اور یہاں تک کہ کھانے کی ترسیل کرنے والے سوار۔ “ہم ان شعبوں سے یونین کی رکنیت بڑھانے کے لیے منظم کرنا چاہیں گے جو اس سارے عرصے میں مناسب طریقے سے منظم نہیں ہوئے،” بھائی گلیح نے اعلان کیا۔

Discussion on organizing strategies for SPM Pariwisata

تنظیم سازی کی حکمت عملیوں کی ترقی کے لحاظ سے ایف ایس پی ایم ۔ایس پی ایم پری ورسٹا ، کے اراکین کے لیے یونین کے اراکین کے طور پر ان کی صلاحیت بڑھانے کے لیے ایک تعلیمی پروگرام کا انعقاد کرے گا ۔ایس پی ایم پری ورسٹا کے اراکین کی حوصلہ افزائی کی جاے گی کہ وہ اپنے کام کی جگہوں پر بھی اپنی یونین کو منظم کریں۔

“انفرادی ممبرشپ یونینوں کی موجودگی کے ساتھ، یہ زیادہ سے زیادہ کارکنوں کو یونین میں شامل ہونے کا موقع فراہم کرتا ہے۔ لہذا، اگر کارکنوں کو کچھ ہو جاتا ہے، یا انہیں کسی مشکل صورتحال کا سامنا کرنا پڑتا ہے، تو وہ کم از کم اپنے حقوق، فلاح و بہبود اور ملازمت کے تسلسل کے لیے تحفظ حاصل کر سکتے ہیں،” بھائی گلیح نے مشاہدہ کیا۔

 

OECD নির্দেশিকার ২০২৩ আপডেটটি হস্তক্ষেপ ছাড়াই শ্রমিকদের ট্রেড ইউনিয়ন গঠন বা যোগদানের অধিকারকে পুনর্ব্যাক্ত করেছে।

দায়িত্বশীল ব্যবসায়িক সদাচরণ বিষয়ক বহুজাতিক উদ্যোগের জন্য OECD নির্দেশিকাগুলির ২০২৩ আপডেটটি কোম্পানির শ্রমিকদের সংগঠনের স্বাধীনতার অধিকারকে সম্মান করার বাধ্যবাধকতাকে পুননিশ্চিত করেছে কীভাবে এই অধিকারকে সম্মান করা হয় সে সম্পর্কে একটি গুরুত্বপূর্ণ বিশদ বর্ননা যুক্ত করে।

OECD নির্দেশিকা ২০১১, অধ্যায় পাঁচ কর্মসংস্থান এবং শিল্প সম্পর্ক, ১-এ উল্লেখ করেছে:

ক) বহুজাতিক এন্টারপ্রাইজ নিয়োজিত শ্রমিকদের নিজের পছন্দমত ট্রেড ইউনিয়ন এবং প্রতিনিধিত্বকারী সংগঠন প্রতিষ্ঠা বা যোগদানের অধিকারকে সম্মান করা।

২০২৩ আপডেটিতে এখন উল্লেখ করেছে:

ক) শ্রমিকদের পছন্দের উপর হস্তক্ষেপ করা এড়ানোর মাধ্যমে একটি ট্রেড ইউনিয়ন বা তাদের নিজস্ব পছন্দের প্রতিনিধিত্বকারী সংগঠনে যোগদান করা সহ, শ্রমিকদের নিজের পছন্দমত ট্রেড ইউনিয়ন এবং প্রতিনিধিত্বকারী সংগঠন প্রতিষ্ঠা বা যোগদান করার অধিকারকে সম্মান করা।

এটি তাৎপর্যপূর্ণ কারণ বেশিরভাগ ট্রান্সন্যাশনাল কোম্পানি শ্রমিকদের নিজের পছন্দ মত ট্রেড ইউনিয়ন গঠন বা যোগদানের অধিকারকে সম্মান করার দাবি করলেও, তারা তাদের জাতীয় এবং/অথবা স্থানীয় ম্যানেজমেন্টকে সেই অধিকার প্রয়োগে হস্তক্ষেপ করার অনুমতি দেয়।

এই হস্তক্ষেপ কর্মক্ষেত্রে ম্যানেজমেন্টের বিভিন্ন ধরনের কার্যকলাপের অন্তর্ভুক্ত যা শ্রমিকদের ট্রেড ইউনিয়ন গঠন বা একটি ইউনিয়নে যোগদান করা পুনর্বিবেচনা করতে বাধ্য করে। ম্যানেজমেন্ট প্রায়ই দাবি করে যে তারা শুধুমাত্র তাদের শ্রমিকদের “পরামর্শ” দিচ্ছিল বা শ্রমিকরা তাদের কাছে পরামর্শ চাইতে এসেছিল। ম্যানেজমেন্ট এই দাবিও  করবে যে তারা ইউনিয়ন সম্পর্কে শ্রমিকদেরকে “শুধু জিজ্ঞাসা করেছে”।

“পরামর্শ” বা “শুধু জিজ্ঞাসা করা” হস্তক্ষেপের মধ্যে পড়ে এবং শ্রমিকদের স্বাধীনভাবে পছন্দ করার অধিকার লঙ্ঘন করে। ইউনিয়নে যোগদান বা গঠন করার স্বাধীনতার অন্তর্নিহিত অর্থ হল যে ম্যানেজমেন্টের কোনো প্রকার হস্তক্ষেপ বা প্রভাব  মুক্ত হয়ে শ্রমিক তার সিদ্ধান্ত নেয়। ম্যানেজমেন্ট অবশ্যই সম্পূর্ণ নিরপেক্ষ থাকতে হবে এবং প্রত্যক্ষ বা পরোক্ষভাবে শ্রমিকদের পছন্দকে প্রভাবিত করবে না।

OECD  (TUAC) এর  ট্রেড ইউনিয়ন উপদেষ্টা কমিটি কিছু কার্যকলাপ বা বিবৃতির উদাহরণ প্রদান করেছে যা “শ্রমিকদের ট্রেড ইউনিয়ন গঠন বা যোগদানের ইচ্ছায় হস্তক্ষেপ করে”:

  • শ্রমিকদের বলা যে তারা একটি “টিম” বা “পরিবার” এবং তাদের প্রতিনিধিত্বের বা যৌথ দর কষাকষি চুক্তির প্রয়োজন নেই।
  • যৌথ দর কষাকষির জন্য শ্রমিকদের প্রতিনিধিত্ব করতে চাওয়া ট্রেড ইউনিয়নকে অপমান করা।
  • এমন কোনো বিবৃতি দেওয়া বা এমন কোনো পদক্ষেপ নেওয়া যা একজন শ্রমিককে ভাবতে বাধ্য করবে যে তারা ট্রেড ইউনিয়ন গঠন করলে তাদের কাজ এবং আয়ের ক্ষেত্রে পরিবর্তন হবে।
  • একটি ধারণা তৈরি করা যে OECD নির্দেশিকাগুলি এন্টারপ্রাইজের জন্য প্রযোজ্য নয়, তাই শ্রমিকরা এগুলোর বাস্তবায়ন চেয়ে কিছু অর্জন করতে পারবে না।
  • শ্রমিকদের প্রতিনিধির পছন্দকে অস্বীকার বা বিলম্বিত করার জন্য বিচারিক আপিল ব্যবহার করা।
  • শ্রমিকরা প্রতিনিধির জন্য তাদের ইচ্ছা প্রদর্শন করার পরে ডিজিটাল প্রযুক্তিতে কাজের স্থানান্তর বা আকস্মিক রূপান্তর।

এই পদক্ষেপগুলির যে কোনও একটি সম্ভাব্যভাবে OECD নির্দেশিকাগুলির লঙ্ঘন গঠন করে।

এইসব এবং অনুরূপ পদক্ষেপগুলি আন্তর্জাতিকভাবে স্বীকৃত সংগঠনের স্বাধীনতার অধিকার এবং আইএলও কনভেনশন নং ৮৭ এবং ৯৮ এর অধীনে সংগঠিত করার অধিকারকে ক্ষুন্ন করে। এগুলি হ’ল মৌলিক কনভেনশন যার সাথে সরকার  এবং নিয়োগকর্তা আবদ্ধ। এর মানে হল যে এটি মেনে চলা এবং শ্রমিকদের সংগঠনের স্বাধীনতা এবং সংগঠনের অধিকারকে সম্মান করার বাধ্যবাধকতা বাধ্যতামূলক, স্বেচ্ছামূলক নয়।

Pembaharuan Pedoman OECD tahun 2023 menegaskan kembali hak pekerja untuk mendirikan atau bergabung dengan serikat pekerja tanpa adanya campur tangan siapapun

Pembaruan Pedoman Perusahaan Multinasional tentang Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab dari OECD pada tahun 2023 menegaskan kembali kewajiban perusahaan untuk menghormati hak kebebasan berserikat pekerja, melalui penambahan penjelasan penting tentang bagaimana hak ini dihormati.

Dalam Pedoman OECD 2011, Bab V Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial, 1 tertulis:

a) Menghormati hak pekerja yang dipekerjakan oleh perusahaan multinasional untuk mendirikan atau bergabung dengan serikat pekerja dan organisasi perwakilan yang mereka pilih sendiri.

Pembaharuan di tahun 2023 tertulis:

a) Menghormati hak pekerja untuk mendirikan atau bergabung dengan serikat pekerja atau organisasi perwakilan yang mereka pilih sendiri, termasuk dengan menghindari campur tangan terhadap pilihan pekerja untuk mendirikan atau bergabung dengan serikat pekerja atau organisasi perwakilan yang mereka pilih sendiri.

Hal ini penting karena meskipun sebagian besar perusahaan transnasional mengaku menghormati hak pekerja untuk mendirikan atau bergabung dengan serikat pekerja yang mereka pilih, namun mereka membiarkan manajemen nasional dan/atau lokal mengintervensi pelaksanaan hak berserikat tersebut.

Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan manajemen di tempat kerja yang memaksa pekerja untuk berpikir dua kali pembentukan serikat pekerja atau bergabung dengan serikat pekerja. Manajemen sering kali mengklaim bahwa mereka hanya memberikan “saran” kepada pekerjanya atau bahwa pekerja datang kepada mereka untuk meminta nasihat. Manajemen juga akan mengklaim bahwa mereka “hanya bertanya” kepada pekerjanya tentang serikat pekerja.

Memberikan “saran” atau “hanya bertanya” merupakan campur tangan dan melanggar hak pekerja untuk bebas memilih. Kebebasan untuk memilih bergabung atau membentuk serikat pekerja secara tersurat berarti bahwa pekerja mengambil keputusannya bebas dari segala bentuk campur tangan atau pengaruh manajemen. Manajemen harus tetap netral dan tidak mempengaruhi pilihan pekerja secara langsung atau tidak langsung.

Komite Penasihat Serikat Pekerja untuk OECD (TUAC) memberikan beberapa contoh tindakan atau pernyataan yang “mengganggu pilihan pekerja untuk mendirikan atau bergabung dengan serikat pekerja”:

  • Memberi tahu pekerja bahwa mereka adalah “tim” atau “keluarga” dan tidak memerlukan perwakilan atau perjanjian perundingan bersama.
  • Meremehkan serikat pekerja yang berusaha mewakili pekerja untuk melakukan perundingan bersama.
  • Membuat pernyataan atau mengambil tindakan apa pun yang dapat membuat pekerja berpikir bahwa pekerjaan dan pendapatannya akan berubah jika mereka membentuk serikat pekerja.
  • Menciptakan persepsi bahwa Pedoman OECD tidak berlaku bagi perusahaan, sehingga pekerja tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun dengan menerapkan pedoman tersebut.
  • Menggunakan permohonan banding yudisial untuk menolak atau menunda pilihan perwakilan pekerja.
  • Relokasi atau konversi pekerjaan ke teknologi digital yang dilakukan secara tiba-tiba setelah pekerja menunjukkan pilihannya kepada perwakilan pekerja.

Salah satu dari tindakan-tindakan tersebut berkemungkinan merupakan pelanggaran terhadap Pedoman OECD. Tindakan-tindakan tersebut dan tindakan-tindakan serupa melanggar hak atas kebebasan berserikat dan hak untuk berorganisasi yang diakui secara internasional berdasarkan Konvensi ILO No. 87 dan 98. Ini adalah konvensi mendasar yang mengikat semua pemerintah dan perusahaan. Artinya, kewajiban perusahaan untuk menaati peraturan ini dan menghormati hak pekerja atas kebebasan berserikat dan berorganisasi adalah wajib, bukan sukarela.

سال ۲۰۲۳میں او ای سی ڈی کے رہنما اصولوں میں ہونے والی ترامیم بغیر مداخلت کے یونین بنانے یا اس میں شامل ہونے کے مزدوروں کےحق کی توثیق کرتی ہے

سال ۲۰۲۳کے  او ای سی ڈی کے  رہنما اصولوں ملٹی نیشنل انٹرپرائزز برائے ذمہ دار کاروباری طرز عمل کارکنوں کے انجمن سازی کی آزادی کے حق کا احترام کرنے کی کمپنیوں کی ذمہ داری کی توثیق کرتی ہے اور  اس حق کا احترام کیسے کیا جاہے اس پر ایک اہم وضاحت شامل کی ہے۔

سال ۲۰۱۱ او ای سی ڈی کے  رہنما اصولوں باب پنجم روزگار اور صنعتی تعلقات،:۱

الف،  ملٹی نیشنل انٹرپرائز کے ذریعہ ملازمت کارکنوں کے حق کا احترام کریں کہ وہ اپنی پسند کی ٹریڈ یونینوں اور نمائندہ تنظیموں کو قائم کریں یا اس میں شامل ہوں۔

سال ۲۰۲۳ میں ہونے والی ترامیم    

الف، مزدوروں کے ٹریڈ یونینوں اور اپنی پسند کی نمائندہ تنظیموں کو قائم کرنے یا اس میں شامل ہونے کے حق کا احترام کریں، بشمول مزدوروں کی اپنی پسند کی ٹریڈ یونین یا نمائندہ تنظیم قائم کرنے یا اس میں شامل ہونے کے انتخاب میں مداخلت سے گریز کرنا۔

یہ اہم ہے کیونکہ جب کہ زیادہ تر بین الاقوامی کمپنیاں کارکنوں کے اپنی پسند کی ٹریڈ یونینز قائم کرنے یا اس میں شامل ہونے کے حق کا احترام کرنے کا دعویٰ کرتی ہیں، لیکن اس کے باوجود وہ اپنی قومی اور/یا مقامی انتظامیہ کو اس حق کے استعمال میں مداخلت کرنے کی اجازت دیتی ہیں۔

یہ مداخلت کام کی جگہ پر انتظامیہ کی طرف سے کارروائیوں کی ایک حد کا احاطہ کرتی ہے جو کارکنوں کو یونین بنانے یا یونین میں شامل ہونے پر دوبارہ غور کرنے پر مجبور کرتی ہے۔ انتظامیہ اکثر یہ دعوی کرتی ہے کہ وہ اپنے ملازمین کو صرف “مشورہ” دے رہے تھے یا ملازمین ان کے پاس مشورہ مانگنے آئے تھے۔ انتظامیہ یہ بھی دعوی کرے گی کہ انہوں نے ملازمین سے یونین کے بارے میں “صرف پوچھا”۔

“مشورہ” دینا ” یا “صرف پوچھنا” مداخلت ہے اور کارکنوں کے آزادانہ انتخاب کے حق کی خلاف ورزی ہے۔ یونین میں شامل ہونے یا تشکیل دینے کا انتخاب کرنے کی آزادی کا واضح مطلب یہ ہے کہ کارکن اپنا فیصلہ انتظامیہ کے کسی بھی قسم کی مداخلت یا اثر و رسوخ سے آزاد ہو      کر کریں۔ انتظامیہ کو مکمل طور پر غیر جانبدار رہنا چاہیے اور کارکنوں کے انتخاب پر براہ راست یا بالواسطہ اثر انداز نہیں ہونا چاہیے۔ او ای سی ڈی(ٹی یو اے سی) کی ٹریڈ یونین ایڈوائزری کمیٹی کچھ ایسے اقدامات یا بیانات کی مثالیں فراہم کرتی ہے جو “کارکنوں کے ٹریڈ یونین کے قیام یا اس میں شامل ہونے کے انتخاب میں مداخلت کرتے ہیں

۔ کارکنوں کو بتانا کہ وہ ایک “ٹیم” یا “خاندان” ہیں اور انہیں نمائندگی یا اجتماعی سودے کاری کے معاہدوں کی ضرورت نہیں ہے۔

۔ اجتماعی سودے کاری کے لیے مزدوروں کی نمائندگی کرنے والی ٹریڈ یونین کی تذلیل۔

۔ کوئی بیان دینا یا کوئی ایسا اقدام کرنا جس سے کارکن یہ سوچے کہ اگر وہ ٹریڈ یونین بناتے ہیں تو ان کا کام اور آمدنی بدل جائے گی۔

۔ یہ تاثر پیدا کرنا کہ  او ای سی ڈی کے رہنما اصولوں کا اطلاق انٹرپرائز پر نہیں ہوتا، اس لیے کارکنان کو ان پر عمل درآمد کرنے سے کچھ حاصل نہیں ہوگا۔

۔  کارکنوں کے نمائندے کے انتخاب سے انکار یا تاخیر کے لیے عدالتی اپیلوں کا استعمال۔

۔ کارکنوں کی جانب سے نمائندے کے لیے اپنی پسند کا مظاہرہ کرنے کے بعد کام کو ڈیجیٹل ٹیکنالوجی میں منتقل کرنا یا اچانک تبدیل کرنا۔

ان میں سے کوئی بھی کارروائی ممکنہ طور پراو ای سی ڈی کے رہنما اصولوں کی خلاف ورزی کا باعث بنتی ہے۔

یہ اور اسی طرح کی کارروائیاں انجمن سازی کی آزادی کے بین الاقوامی طور پر تسلیم شدہ حق اورآئی ایل او کنونشن نمبر 87 اور 98 کے تحت انجمن  سازی کے حق کو نقصان پہنچاتی ہیں