Sebagai tanggapan atas tuntutan untuk memperkerjakan kembali pekerja perempuan yang diberhentikan secara tidak adil, Manajemen Phillips Seafood memberhentikan BPJS mereka.

Sebagai tanggapan atas tuntutan untuk memperkerjakan kembali pekerja perempuan yang diberhentikan secara tidak adil, Manajemen Phillips Seafood memberhentikan BPJS mereka.

Pada 25 November 2022, serikat pekerja bertemu dengan manajemen Phillip Seafood Indonesia untuk menuntut 40 pekerja harian perempuan yang diberhentikan secara tidak adil agar diberikan pekerjaan dan dialihkan ke posisi permanen. Manajemen menolak dan mengulangi perkataannya bahwa para pekerja tersebut gagal meningkatkan “kecepatan” mereka dalam memenuhi target harian.

Lima hari kemudian, pada tanggal 30 November, manajemen menghentikan iuran untuk BPJS Kesehatan mereka.

Mengabaikan protes para pekerja perempuan, Manajemen AS yang mengunjungi pabrik Phillips Seafood di Indonesia fokus pada permesinan

Mengabaikan protes para pekerja perempuan, Manajemen AS yang mengunjungi pabrik Phillips Seafood di Indonesia fokus pada permesinan

Pada tanggal 1-2 Desember 2022, tim Senior Manajemen dari Phillips Seafood – termasuk Manajemen AS – mengunjungi pabrik daging kepiting di Lampung, Indonesia, untuk melihat kondisi mesin dan peralatan. Mereka mengabaikan protes besar-besaran para pekerja perempuan atas pemutusan hubungan kerja yang tidak adil terhadap pekerja harian yang saat ini menuntut untuk diberikan pekerjaan tetap. Mereka tidak berhenti untuk bertemu dengan perwakilan serikat pekerja. Mereka tidak melakukan uji kelayakan. Mereka tidak meminta hasil penilaian dari status pekerja, beban kerja, kondisi kerja atau target harian. Mereka berfokus pada penggantian dan perbaikan mesin. Apakah ini mencerminkan nilai- dan kurangnya nilai moral – dari sebuah perusahaan yang mengaku sebagai pemegang bisnis keluarga di Baltimore?

Setelah 20 tahun menjadi pekerja lepas, pekerja perempuan pengolahan hasil laut di Indonesia meminta diangkat menjadi pekerja tetap. Namun, Phillips Seafood memberhentikan mereka.

Setelah 20 tahun menjadi pekerja lepas, pekerja perempuan pengolahan hasil laut di Indonesia meminta diangkat menjadi pekerja tetap. Namun, Phillips Seafood memberhentikan mereka.

Selama puluhan tahun, Sri Rezeki, Eti dan Suwarni setiap hari bekerja mengupas kepiting dan memisahkan daging dengan cangkang kepiting di Pabrik Phillips Seafood di Lampung, Indonesia. Sebagai pekerja harian, mereka bekerja di bawah tekanan kuat untuk memenuhi target harian yang berubah dengan cepat yang diukur dalam kilogram daging kepiting. Mereka menderita karena pekerjaan yang berlebihan, mengalami cedera dan menghadapi ancaman kesehatan yang buruk. Setiap pagi selama 20 tahun, mereka bersiaga menunggu SMS dari manajemen untuk mengetahui apakah mereka mendapatkan jadwal bekerja ke pabrik atau tidak. Hal tersebut merupakan bentuk ketidakamanan dan kecemasan tambahan dalam pekerjaan yang sudah tidak aman.

 

Sama seperti bisnis restoran milik keluarga, Phillips Seafood yang berpusat di Baltimore, AS, yang berinvestasi dalam memperluas produksi daging kepiting di Pabrik Lampung, Sri Rezeki, Eti dan Suwarni – bersama dengan 37 pekerja harian perempuan lainnya berhenti menerima SMS dari Manajemen di tanggal 30 Agustus 2022. Sejak saat itu mereka efektif diberhentikan.

Ketika Serikat menuntut untuk mengetahui mengapa 40 perempuan itu tidak lagi dipanggil untuk bekerja, manajemen menyatakan bahwa hal itu terjadi karena “kinerja yang buruk” – gagal memenuhi target harian mereka. Namun kesamaan Sri Rezeki, Eti dan Suwarni  dengan 35 buruh perempuan yang dipekerjakan sebagai buruh harian selama 20 tahun dan dua perempuan lainnya, Rusmiyati dan Desiyanti, yang bekerja selama 13 tahun, adalah mereka secara resmi meminta untuk dijadikan pekerja tetap. Mereka telah meminta untuk diangkat menjadi pekerja tetap pada 2010, 2012, dan 2017.

Setelah serikat pekerja mendapatkan pengakuan dari perusahaan pada akhir tahun 2021 (setelah perjuang selama 12 tahun untuk hak-hak serikat pekerja) dan merundingkan kesepakatan bersama pertamanya, diringan untuk pekerjaan tetap bagi pekerja harian perempuan meningkat pada tahun 2022. Sebagai tanggapan manajemen secara sederhana berhenti memanggil mereka untuk bekerja. Hanya setelah serikat pekerja menuntut para perempuan ini untuk melanjutkan pekerjaannya dan dijadikan pekerja permanen, Manajemen mengklaim bahwa hal itu terjadi karena “kinerja yang buruk”. Setelah mereka bekerja selama 20 tahun. Jadi pertanyaannya tetap: Bagaimana perusahaan seperti Phillips Seafood dapat memutuskan bahwa pekerja harian perempuan di Indonesia yang mengekstraksi dan menyiapkan daging kepiting untuk restorannya di AS selama dua dekade, memiliki kinerja yang buruk dan sekarang mereka berhentikan begitu saja?

In response to demands to reinstate unfairly terminated women workers, Phillips Seafood management cancels health insurance

In response to demands to reinstate unfairly terminated women workers, Phillips Seafood management cancels health insurance

On November 25, 2022, the union met with Phillips Seafood Indonesia management to demand that the 40 unfairly terminated women daily workers be given work and be converted to permanent positions. Management refused and repeated that the women failed to improve their “speed” in meeting daily targets.

Five days later, on November 30, management stopped contributions to their mandatory government health care.

 

Ignoring protests by women workers, US management visiting Phillips Seafood factory in Indonesia focused on machinery

Ignoring protests by women workers, US management visiting Phillips Seafood factory in Indonesia focused on machinery

On December 1-2, 2022, a team of senior management from Phillips Seafood – including US management – visited the crab meat factory in Lampung, Indonesia, to asses upgrading machinery and equipment. They ignored a massive protest by women workers over the unfair termination of daily workers who demanded permanent jobs. They did not stop to meet the union representatives. They did not undertake any due diligence. They did not call for an assessment of employment status, workloads, working conditions or daily targets. They focused on the replacement and repair of machinery. Does this reflect the values – and the lack of moral values – of a company that claims to be a homegrown family business in Baltimore?
US

US management ignored this

 

Setelah 20 tahun menjadi pekerja lepas, pekerja perempuan pengolahan hasil laut di Indonesia meminta diangkat menjadi pekerja tetap. Namun, Phillips Seafood memberhentikan mereka.

After 20 years as casual workers, women seafood processing workers in Indonesia requested permanent jobs. Phillips Seafood terminated them.

For two decades Sri Rezeki, Eti and Suwarni, worked every day shelling crabs and extracting crab meat at the Phillips Seafood factory in Lampung, Indonesia. As daily paid workers they worked under intense pressure to meet rapidly changing daily targets measured in kilograms of crab meat. They suffered from excessive work, injuries and ill health. Every morning for 20 years they were on standby, waiting for a text message from management to know whether they should report to the factory or not. It was an added layer of insecurity and anxiety in an already insecure job.

Just as the family-owned Phillips Seafood restaurant business based in Baltimore, USA, is investing in expanding the production of crab meat at the Lampung factory, Sri Rezeki, Eti and Suwarni – along with 37 other women daily workers – stopped receiving text messages on August 30, 2022. They were effectively terminated.

When the union demanded to know why the 40 women are no longer called to work, management claimed that it was due to “poor performance”-  failing to meet their daily targets. But what Sri Rezeki, Eti and Suwarni have in common with 35 women workers employed as daily workers for 20 years and another two women, Rusmiyati and Desiyanti, who worked for 13 years, is that they formally requested permanent jobs.They made the request in 2010, 2012 and 2017.

“performance results are just an excuse to change the workers”

After the union won recognition from the company at the end of 2021 (after a 12 year struggle for trade union rights) and negotiated its first collective agreement, the push for permanent jobs for women daily workers escalated in 2022. In response management simply stopped calling them in to work. Only after the union demanded the women resume work and be made permanent did management then claim it was due to “poor performance”. After 20 years. So the question remains: how can a company like Phillips Seafood decide that the women workers in Indonesia who extracted and prepared crab meat for its restaurants in the USA for two decades are now simply disposable?